Puisi "Terluka.."

00.19


Menyendiri di kamar
Duduk dan menangis di sudutnya
Mengingat dirimu yang telah pergi
Meninggalkanku tanpa sebab.

Aku berjalan dan terus berjalan
Tanpa kau, dia, ataupun mereka
Melawan rasa lelah dan jenuh
Namun aku tak kuasa melakukannya

Bagaikan petir di siang hari
Yang menyambar hatiku
Disaat dia datang membawa kabar
Yang mampu membuat jiwaku mati seketika

Kau tak mengerti apa yg kurasakan
Kau tak tau
Dan tak kan pernah tau
Mengapa ada air di pelupuk mata

Aku terdiam
Tak ada yg bisa aku perbuat
Selain menangis
Dan mengingat semua yang pernah trjadi

Hidupku hampa,
Hatiku sakit
Batinku mati
Itulah yang ku rasakan

Jangan tanyakan mengapa dan ke mana aku akan melangkah
Jangan halangi jalanku lagi
Tak perlu kau mengusap kesedihan ini
Karna itu akan menyakitinya

Pergilah kau sayang bersama dia
Bahagiakan di sisimu
Jaga cintamu padanya
Aku rela meninggalkanmu



Oleh: Melda Sri Bulan

Judul : P. Sandra D.  (judul sementara).

Puisi "Aku Berhenti"

17.59



Aku Berhenti

Letih mencari..
Lelah menanti..
Lumpuh di sini..

                Berawal dari mimpi..
Kulihat kau berdiri
Berjalan menghampiri
Bertahta di hati..

                Berharap hati ini..
Dapat merengkuh kau,
‘sang penjajah hati’..
Tapi kau berlari!
Pergi!!

                Aku mengejar, berlari!
                Jatuh dan tertatih!!
                Berteriak memanggil nama
 ‘yang terkasih’!
                Tak jua ia bersemi..

Aku terus mencari..
Jalan panjang kutapaki..
Tapi, tak lagi kudapati..

Fatamorgana!

Aku berhenti!
Aku lelah mencari!!
Aku lelah menanti!!
Aku lumpuh di sini..

By : P. Sandra D.
02-04-2013

Terinspirasi dari, dan dihadiahkan kepada: Manasye Indra Kusuma.

Cerpen 'Dongeng Gadis Pemimpi'

17.53



Dongeng Gadis Pemimpi
Oleh: P. Sandra D.

Namanya Leyra Amartha. Nama indah pemberian ayah dan ibunya. Tahun ini Leyra genap berusia 16 tahun. Kata orang-orang, ia memiliki wajah bulat yang manis, dengan bola mata coklat, dan rambut hitam yang indah. Sayangnya, ia tidak pernah memiliki kesempatan berdiri di depan cermin, menikmati cantiknya maha karya Tuhan terhadap dirinya.
Leyra, tidak seperti kebanyakan anak perempuan lain. Anak-anak seusianya menghabiskan waktu untuk belajar, bersantai, berkumpul dengan teman-teman, dan mengadu rasa dengan lawan jenis. Sedang ia, hanya anak perempuan biasa yang menghabiskan waktu berbaring di atas tempat tidur.
Kira-kira tiga tahun yang lalu, ia terjatuh di sekolah dan tidak sadarkan diri. Leyra dilarikan ke RS terdekat. Dan setelah keluar dari sana, tubuhnya malah harus berbaring di atas tempat tidur, lumpuh, dengan rambut yang mulai menipis kian hari. Entah penyakit apa yang ia derita. Ayah dan ibu sepertinya enggan bercerita.
Setiap hari, kala ia membuka mata, hanya langit-langit ruangan kamar itu dan cahaya matahari yang menerobos masuk dari jendela, yang menyambutnya. Apa boleh dikata, Leyra digariskan hidup dalam keluarga yang sederhana. Sangat sederhana. Setiap pagi, sekitar pukul empat, ibu pergi ke pasar berdagang sayur-sayuran, sedang ayah pergi menyupir mobil angkutan umum. Kakaknya, tidak begitu peduli. Ia sibuk dengan kuliahnya. Sedangkan kedua adiknya yang lain, sibuk dengan sekolah, teman-teman, dan mainan mereka.
Kesunyian telah menjadi teman akrab baginya. Namun, ada satu hal yang selalu membuat ia bersemangat. Setidaknya semangat itu dapat menyapu rasa kesendirian dalam dirinya. Hal itu adalah, malam. Ya, Leyra sangat menyukai malam. Bukan karena gelap yang membanjiri langit. Bukan karena paduan suara para serangga malam. Bukan pula karena indahnya bulan dan bintang yang menghiasi langit, kata orang-orang. Tapi, karena malam adalah waktunya untuk tidur. Entah kenapa, tidur juga menjadi salah satu teman terbaik baginya setelah kesunyian.
Alasannya sederhanya. Mimpi. Sebagian orang mungkin akan tertawa jika mendengar bahwa Leyra adalah seorang gadis yang senang bermimpi di kala tidur. Mungkin lebih dari sekedar senang. Ia hobby. Leyra selalu menanti-nantikan kedua matanya terpejam. Tidur. Kemudian berpetualang di alam mimpi.
Sejak tubuhnya terbaring lumpuh, ia tak pernah bisa menginjakkan kaki untuk melangkah ke mana pun. Hanya ketika berada di dalam mimpi, ia dapat berjalan, belari, terbang, dan merasa hidup. Mimpi memberinya kekuatan dan keberanian untuk menghadapi hari esok.
Ia ingin hidup di dalam mimpi. Menjadi ratu atas sebuah negeri. Terbang bebas di langit yang bersih.
Mimpi. Mimpi. Mimpi.

*   *   *

Mimpi buruk, tentang Nenek Sihir
Suatu hari seorang gadis berada di hutan, tertawan dalam sebuah rumah yang dipenuhi dengan berbagai aroma tak sedap. Kedua tangannya terikat. Pakaiannya tampak kumal dan lusuh. Entah sudah berapa lama ia berada di rumah itu.
 Dilihatnya ada sebuah tungku dengan periuk besar di atasnya. Ia meninggikan leher, mencoba melihat apa yang tengah dimasak di dalam periuk itu. Ia melihat sesuatu. Awalnya ia tidak yakin, tapi kemudian ia terkejut ketika melihat kepala seekor kucing menyembulkan ke atas.
Ia ketakutan dan mencoba melepaskan tangannya dari tali yang mengikat. Terdengar pula olehnya suara tawa yang mengerikan. Suara tawa seorang nenek. Suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Kemudian suara lain menyusul. Terdengar suara pukulan, dan berakhir dengan suara lengkingan seekor kucing. Tawa nenek itu terdengar lagi. Begitu menakutkan.
Gadis itu berusaha keras melepaskan tangannya. Dan beruntung, tali itu melonggar dan ia terlepas. Ia berdiri perlahan dan melihat pintu keluar. Ia berjalan dengan hati-hati dan keluar dari rumah itu.
Ia berlari secepat mungkin, menjauh dari rumah itu. Suara-suara hutan berkeliaran di sekitarnya. Ia tidak peduli. Ia tidak ingin tertangkap oleh nenek itu. Namun sayang, nenek itu mengetahui pelariannya. Ia bergegas mengejar gadis itu. Nenek tua itu bergerak amat cepat, menyusul si gadis.
Gadis itu sempat menoleh ke belakang. Mencoba melihat rupa dari sang nenek. Nenek itu mengenakan jubah hitam robek-robek, dengan topi kerucup di kepalanya. Biasa dikenal, Nenek Sihir.
Gadis itu berlari lebih cepat. Ia semakin takut. Tapi tiba-tiba, sesuatu yang besar menghadangnya dari depan. Makhluk raksasa mirip manusia, bermata satu, dengan tubuh berwarna hijau. Suara makhluk itu terdengar sangat mengerikan. Ia mengerang dan berteriak.
“Mau lari ke mana kau gadis kecil! Kemarilah! Nenek ingin memakanmu!” Teriak si nenek di belakang sana, disusul tawanya yang khas.
Gadis itu semakin ketakutan. Ia berlari ke arah lain, menghindar dari makhluk raksasa hijau dan nenek sihir pemakan anak-anak. Ia tidak tahu ke mana kaki itu akan membawanya, dan kapan pelariannya akan berakhir. Yang ia mau adalah terlepas dari nenek sihir.
Ia berlari. Terus berlari. Keringat mengucur di sekujur tubuhnya.

*   *   *

Leyra terbangun dari tidurnya. Dirasanya sebuah kain hangat menyapu keringat di dahinya. Ia melihat ibu duduk di tepi ranjang, sedang ayah memperhatikannya dengan raut wajah sedih. Terlihat pula seorang laki-laki berdiri di samping ayah, mengenakan blazer putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya. Orang-orang menyebutnya dokter. Seseorang yang ahli dalam mendeteksi penyakit dan meramu obat untuk menyembuhkan sakit pasien. Tapi anehnya, mereka tidak dapat mendeteksi penyakit apa yang membuat seorang gadis memiliki hobby bermimpi.
“Ibu, kenapa ada dokter di sini?” tanya Leyra.
Ibu tersenyum sambil menggelengkan kepala, “Tidak ada apa-apa. Istirahat saja.”, ucapnya mencoba meyakinkan Leyra kalau semuanya baik-baik saja. Kemudian ayah dan dokter itu pergi meninggalkan kamar Leyra.
Maudy mendekati sisi lain ranjang Leyra. Ia duduk di dekat kepalanya, kemudian mendaratkan elusan lembut di kepala Leyra. Kedua adiknya turut duduk di samping Maudy. Mereka memijit-mijit pelan tangan Leyra.
“Maaf ya, kakak jarang punya waktu buat nemani kamu.” Suara Maudy terdengar berat.
“Sakit ya, kak?” tanya Mucika, anak ketiga dalam keluarga itu.
“Galih sayang kakak!” ucap si bungsu.
Aneh, rasanya Leyra merasa sangat lelah. Ia tak mampu mengeluarkan suara. Ia hanya bersuara melalui senyuman, diiringi air mata. Entah kenapa, ia merasa begitu bahagia.
Ayah tampil kembali. Ia duduk di samping ibu, kemudian memegang tangan Leyra yang terasa dingin. Semuanya ada di kamar itu. Ada ayah, ibu, kak Maudy, Mucika, dan Galih. Itu adalah hal yang selama ini dirindukan Leyra. Berkumpul bersama keluarga yang dicintainya.
Sempat ia teringat mimpi sesaat sebelum ia terbangun. Mimpi buruk. Dikejar seorang nenek sihir dan makhluk raksasa hijau. Harapan terbesarnya sudah terpenuhi, dan kini tinggal satu. Mimpi indah.
Kini ia siap untuk beristirahat. Siap untuk memejamkan mata. Siap untuk petualangan baru di alam mimpi. Siap untuk berjalan, berlari. Terbang di angkasa maha raya. Menjadi ratu atas sebuah negeri yang indah.

Mata terpejam..

*   *   *

Mimpi indah, tentang dongeng Putri Leyra
Seorang gadis terbangun dari tidurnya. Ia berada di atas sebuah ranjang yang megah, di dalam ruangan besar yang indah. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kaca rias yang besar. Ia memandangi paras dirinya yang mengenakan gaun tidur yang cantik. Ia menyisir lembut rambut coklatnya yang indah. Terpancar sinar kelembutan dari manik matanya yang berwarna cokelat. Ia adalah seorang tuan putri. Putri Leyra.

*   *   *

Suatu kali putri Leyra berjalan di koridor istana dan tak sengaja melihat pintu kamar kakaknya, putri Maudy, tidak tertutup rapat. Ia berjalan mendekati pintu itu dan mengintip melalui calahnya. Matanya menangkap sesuatu yang begitu menakjubkan. Ia melihat kakaknya melayang di udara.
Putri Leyra buru-buru masuk untuk memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Dan ternyata benar, kakaknya sedang melayang di udara. Sang kakak begitu terkejut melihat kedatangan adiknya. Ia bergegas mendaratkan kakinya dan berlari menutup pintu kamar. Ia mendekati Leyra dan mengatakan sesuatu.
“Kamu harus merahasiakan hal ini, sampai waktunya tiba.” kata putri Maudy.
 “Apa maksud kakak? Dan kenapa kakak bisa terbang?”, ia bertanya.
“Sudah waktunya kamu tahu rahasia keturunan keluarga kita. Keturuan dari ayah, memiliki kemampuan yang istimewa, yaitu dapat terbang. Sejak dahulu, yang boleh menduduki tahta raja di negeri ini hanya keturunan asli dari ayah, dan keturunan itu harus memenuhi persyaratan. Syaratnya, dapat terbang.”
“Itu artinya, jika ayah meninggal, maka kakak akan menggantikan kedudukannya?”
Tiba-tiba pengawal menerobos masuk dan menyampaikan suatu berita yang mengejutkan.
“Putri, raja telah meninggal!”
Leyra dan Maudy sangat terkejut. Mereka bergegas lari menuju kamar raja. Dan ternyata benar, ayah mereka telah meninggal. Sementara itu para menteri bertanya-tanya kepada ratu tentang pewaris tahta berikutnya.
“Aku yang akan menggantikan kedudukan raja.” ucap Putri Maudy. Dan saat itu pula ia menunjukkan kemampuannya. Ia melayang di udara. Dan semua orang yang ada di dalam kamar itu segera memberi hormat padanya. Putri Maudy menjadi ratu atas negeri besar itu.
Namun sayang, setelah ia menduduki tahta raja, semua berubah. Ia memerintah dengan kejam. Ia menjadi ratu yang angkuh. Rakyat sangat takut padanya dan para menteri membencinya. Ibu sudah berusaha memperingatkannya, tetapi hal itu percuma.

*   *   *

Suatu malam putri Leyra merenung di kamarnya. Ia kecewa dengan perilaku sang kakak yang berubah sejak menduduki tahta raja. Ia kelihangan sosok kakak yang dikenalnya. Entah kenapa terlintas sesuatu di pikirannya saat itu. Bagaimana jika suatu waktu kakaknya meninggal. Siapa yang akan menggantikan. Jika tidak ada satu pun dari antara dia atau kedua adiknya yang dapat terbang, maka para menteri akan mencari pengganti dari keturunan kakeknya yang lain. Jika hal itu terjadi, maka ia beserta ibu dan adik-adiknya akan diusir dari istana.
Leyra tidak mau hal itu terjadi. Maka ia mencoba untuk terbang. Ia meyakinkan diri, dan percaya kalau ia dapat terbang seperti sang kakak. Dan benar saja, kakinya terangkat dan ia melayang di udara. Ia mencoba bergerak ke sisi-sisi ruangan. Ia begitu senang, dan ia menorehkan sumpah di hatinya, ia akan menjadi pemimpin yang baik.

*   *   *

Suatu hari para dayang memberitahu ia dan ibunya, kalau ratu Maudy mengurung diri di kamarnya. Sudah beberapa hari ia tidak mau keluar dan tidak mau makan. Leyra dan ibunya menjadi cemas. Mereka pergi ke kamar Maudy. Maudy terlihat mengenakan gaun tidur berwarna putih. Ia duduk di atas meja di dekat jendela. Memandang ke langit. Wajahnya tampak pucat. Ia terlihat sedih. Tak lama, akhirnya ratu Maudy jatuh sakit dan ia meninggal dunia.
Kabar kematiannya segera terdengar di seluruh negeri. Rakyat mulai sibuk membicarakan pemimpin berikutnya. Para menteri berniat mengangkat keturunan lain dari raja terdahulu untuk menjadi pemimpin berikutnya. Dan hal itu membuat ibu Leyra ketakutan. Jika hal itu terjadi, maka ada kemungkinan mereka akan dibunuh oleh penguasa berikutnya, untuk menghindari kembalinya tahta ke tangan keturunan ayah mereka.
Maka, Leyra memanggil ibunya dan seluruh menteri. Di hadapan mereka semua, ia menunjukkan kemampuannya. Ia melayang di udara. Dan tiba-tiba cahaya mengitari tubuhnya.
“Aku akan meneruskan tahta ayahku.”
Saat itu juga para menteri memberi hormat padanya. Leyra segera ditetapkan menjadi ratu negeri itu. Para dayang berbondong-bondong datang ke kamarnya. Mereka merias wajahnya dan mengenakan gaun yang indah pada tubuhnya.
Ia naik ke atas tandu yang megah dan dibawa menuju kursi tahta. Sesaat sebelum duduk, ia melayang di udara dan membentangkan kedua tangannya. Dan seketika, istana riuh dengan sorak-sorai.
“Hidup ratu Leyra!”
Sejak saat pemerintahan Leyra, situasi di negeri itu berubah. Ratu Leyra memimpin dengan bijaksana. Ia seorang yang penuh kelembutan, rendah hati, hidup dalam kesederhanaan, dan memperhatikan hidup rakyatnya.

*   *   *

Mata itu terpejam..
Kini Leyra menjadi ratu di negeri alam mimpi. Selamanya..


                                                                                                                             15 Maret 2013
  P. Sandra D.     

Cerpen "Mata Abu-abu"

02.20



Mata Abu-abu
                                                                                                                                                     
Nama anak laki-laki itu, Bianka. Setiap pagi ia selalu berdiri sejenak di depan pintu gerbang sekolah. Menatapi setiap anak dari kumpulan komunitas putih abu-abu. Setiap anak yang memiliki titik hitam di atas kepalanya. Mata kelabunya menerawang, menerobos masuk pada sebuah gambaran. Kematian. Ah! Kasihan mereka.
“Selamat jalan.” Ucap Bianka pelan kepada setiap putih abu-abu yang memiliki setitik hitam di atas kepalanya.
Nama Bianka sangat populer di sekolah itu. Beberapa menganggapnya sangat spesial. Beberapa menganggapnya paranoid. Beberapa lagi menganggapnya anak kutukan, karena mata kelabunya yang terlihat mati. Wajahnya dingin seperti matanya. Tanpa ekspresi, tanpa jiwa.
Popularitasnya dimulai ketika itu. 16 Mei 2010. Bianka sedang duduk di kantin dengan Gilang, sohibnya, bersama anak laki-laki lain yang sepantaran dengannya. Kepala sekolah baru saja lewat tak jauh di depan mereka.
“Sebaiknya kalian menyiapkan bunga duka untuk kepala sekolah. Besok. Jam 2 siang.” ucap Bianka dengan bibir tertarik membentuk senyum aneh yang menakutkan.
“Gila apa, lu! Siang bolong gini, bicara lu horor gitu!” seru Gilang menganggap perkataan Bianka hanya sepintas lelucon.
“Mata lu unik, ya! Gue pingin punya mata kayak lu!” cetus seorang di antara mereka.
“Gue sebaliknya.” ucap Bianka, dingin.

Menggemparkan. Menakutkan. Mereka yang siang itu berada bersama dengan Bianka, begidik saat Bianka lewat di depan mereka. 17 Mei, jam 2 siang. Berita duka sekaligus isu mengerikan beredar dengan cepat di setiap pelosok kelas. Kepala sekolah baru saja meninggal. Dibunuh. Mulai saat itu, Bianka memperoleh banyak julukan. Sang Penglihat. Paranormal. Malaikat Maut. Pembawa sial. Kematian.

*   *   *

Kisah, anak laki-laki bernama Bianka.
Anak laki-laki itu meringkuk di sudut kamarnya. Suara tangis pilu berbumbu duka menerobos pintu kamarnya. Aromanya perih menusuk mata. Memekik di telinga. Rasa-rasanya baru tadi pagi ia bersenda gurau dengan ibu. Sampai ketika matanya melihat sesuatu muncul di atas kepala ibu. Setitik hitam. Ia melihati titik itu. Udara seakan berkurang. Menyesakkan. Ia melihat gambaran. Rancangan maut.
Ah! Itu hanya ilusi mata yang diciptakan oleh otak. Mungkin ini efek samping begadang nonton bola semalaman. Sampai akhirnya berita kematian ibu sampai di telinga Bianka. Kecelakaan maut yang terjadi di jalan raya merengut kehidupan ibunya. De javu. Ia melihat tragedi itu sebelum tragedi naas itu terjadi.
Ia masih meringkuk di sudut ruangan itu. Menyalahkan diri atas kejadian itu. Tubuhnya mati rasa. Kakinya lemas untuk beranjak dari sana. Ia tak mampu keluar dari kamar itu dan menyaksikan tubuh ibu yang terbaring di dalam peti peristirahatan terakhir.

*   *   *

Bianka membenci dongeng dan mitos. Ia selalu menolak didongengi oleh nenek dan kakek. Baginya dongeng adalah racun yang dapat merusak otak dan mental. Karbondioksida yang meracuni tubuh. Menjadikan anak seorang penghayal. Baginya, mitos hanyalah sebuah kumpulan kisah dan cerita yang ditambahi bumbu-bumbu kebohongan untuk memperenak rasanya. Fiksi. Non-fakta. Non-realita.
Tapi, dongeng dan mitos seperti nutrisi tambahan dalam hidup. Kenyataannya, realita kehidupan kerap kali dikelilingi dengan bebauan fiksi.
Malam itu, untuk pertama kalinya Bianka meminta ayah mendongeng. Ia sedikit menyesal dengan dakwaannya terhadap dongeng dan mitos. Saat ini ia malah tenggelam dan terbenan dalam kisah non-realita, Sungai Banyuwangi.
Matanya mulai sayu. Dongeng ayah membuainya untuk tidur. Untuk pertama kali ia merasakan kecup hangat ayah di dahinya. Ayah menjauh dari tepi ranjang. Ah! Apa itu?! Setitik hitam. Persetan! Saat ini Bianka hanya ingin tertidur. Melebur dengan kisah Sungai Banyuwangi dalam rajutan mimpi. Samar-samar terlihat tarikan kecil di sudut bibir ayah. Sebuah senyuman. Dan pintu ditutup.

*   *   *

Tak menangis. Tak histeris. Tak juga bergeming. Bianka hanya berdiri terpaku memandang sesosok tubuh membiru tergantung di langit-langit kamar mandi. Ayah sudah lelah. Ia memilih untuk mengistirahatkan diri selamanya. Pensiun dari segala hal yang menyangkut kehidupan.
Bianka menoleh pada cermin di sana. Manik mata cokelat itu kini berubah menjadi abu-abu. Hawa mengerikan meruak keluar dari manik mata itu. Ruangan serasa menyempit. Suplai udara berkurang. Mata Bianka terpejam. Jatuh. Tidak sadarkan diri.
Kenyataan diungkap. Ia kini seorang diri, ditemani mata aneh itu. Mata yang menjadi saksi bahwa kematian dapat dilihat.

*   *   *

Kematian.
Anak itu berlari. Menabrak bahu Bianka tanpa menoleh. Hanya terus berlari. Mata Bianka mengikuti lesat lari anak laki-laki itu. Seorang anak yang dibalut dalam jahitan putih abu-abu. Sama dengannya. Dari arah yang sama, Bianka melihat Gilang berlari dan segera merangkul bahunya. Ia terengah-engah.
“Lu memang sohib gue yang paling setia! Gue terharu banget! Meskipun lu aneh, tapi hanya lu yang niat benget nungguin gue tiap pagi di depan gerbang!”
“Tinggi banget PD lu!” ucap Bianka dengan senyum setengah.
“Ayo!”
Selalu. Setiap pagi. Setiap hari. Banyak pasang mata yang melempari Bianka dengan tatapan aneh plus najis. Beberapa dari mereka membentuk kerumunan, merangkai obrolan terbaru dan terhangat yang lengkap dengan fitnah sebagai penyedap rasanya. Bianka objek topiknya. Ia sudah membiasakan diri dengan hal itu. Tak lagi terusik. Tak lagi peduli.
Hati. Jiwa. Perasaan. Simpati dan empati. Semuanya sudah lama mati dari diri Bianka. Anugrah mengerikan itu menenggelamkan jiwanya dalam samudra terdalam dan tergelap. Kematian, memang adalah nama yang tepat untuk menggambarkan dirinya.
Tak sekali pun Bianka pernah merasa iba melihat mereka yang ditemani si titik hitam.  Ah, sudah biasa! Lagipula, itu adalah takdir mereka. Bianka tidak mau ikut campur dengan urusan kematian. Menjauhkan diri dari gambaran pahlawan siang bolong yang menghadang maut mengeksekusi manusia. Paling-paling ia hanya tersenyum. Senyum manis yang mengerikan. Mengucapkan kata perpisahan. Tak lama, orang itu akan terhapus dari daftar absen kehidupan.

*   *   *

Tidur panjang.
Aneh. Untuk kedua kalinya orang itu menubruk Bianka. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Bianka sampai terhempas. Seperti sebelumnya, orang itu tidak menoleh. Ia melesat bagai tiupan angin. Menghilang di tikungan pertigaan. Bianka mengumpat. Ingin sekali ia mengejar orang itu. Menyemburkan amukan protes. Tapi, sudahlah. Hanya tinggal menunggu waktu, sampai akhirnya si titik hitam muncul di atas kepala orang itu. Ajal.
Bianka menapaki tepi jalan. Selalu memandang ke bawah. Tidak mau melihat jejalan manusia yang hilir lalu di sana. Menghindari si titik hitam. Entah kenapa terlintas pertanyaan aneh di kepalanya; apakah si titik hitam juga akan muncul di atas kepalanya. Kapan. Seperti apa dewa maut merajut ajalnya.
Lelah. Bianka muak dan ingin melepaskan diri dari kungkungan mata mengerikan itu. Berapa banyak design kematian yang ia lihat dengan mata itu, tidak terhitung.

*   *   *

Suatu malam, Bianka duduk di pojok sebuah angkuta umum. Memandangi kerlip lampu hias jalanan. Terhanyut di dalamnya. Indah. Membawanya pada memori masa silam. Ia duduk manis di bangku tengah kendaraan roda empat ayah. Ayah dan ibu menyanyikan senandung lagu klasik, favorit mereka berdua.
Angkuta itu berhenti di perempatan ketika lampu merah menyala. Hey! Anak laki-laki putih abu-abu. Berjalan menunduk. Terlihat hampa dan kosong. Bianka tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Apa itu?! Mengapa si titik hitam melayang di atas kepalanya. Rancangan maut. Kasihan. Cepat sekali. Sebentar lagi.
Tergugah. Bianka ingin melihat wajah anak itu. Mengucapkan salam perkenalan sekaligus perpisahan. Ia keluar dari angkuta. Mengikuti jejak anak laki-laki itu dengan langkah cepat. Aneh. Apakah anak itu tahu, Bianka mengikutinya. Mengapa ia mempercepat langkahnya. Membuat Bianka tertinggal jauh di belakang.
“Hei! Tunggu!” Teriak Bianka memanggil anak laki-laki itu. Tidak ada respon. Anak itu terus berjalan ke depan tanpa menoleh. Siapa anak itu. Bianka ingin segera mendapatkannya. Melihat wajahnya. Memeluknya sejenak.
Ah, tidak lama lagi.
Si hijau menyala. Sesuatu datang dengan cepat. Hantaman besar terjadi. Tubuh Bianka terhempas ke bahu jalan. Darah merah segar mengalir. Tak lama orang-orang berkerumun di sekitar Bianka. Suara-suara ngeri dan histeris menggema.
Sebentar lagi..
Si putih abu-abu menoleh. Bianka mencoba melihat wajah itu. Berbayang-bayang. Terlihat samar-samar. Jelas, sekilas. Anak itu tersenyum. Senyumnya manis. Bianka mencoba mengenalinya. Tidak asing. Ya, tidak asing. Bianka.
Bibirnya bergerak. Mengucapkan sesuatu.
“Selamat tidur panjang, Bianka.”.



Oleh    : Puspita Sandra Dewi

Nurani di Antara Keterasingan

01.46


Nurani di Antara Keterasingan

Angin berhembus lembut..
Meniup helaian rambutku
Kulihat seorang gadis.. 
Sedang duduk di anak tangga..

Rambutnya hitam panjang..
Wajahnya oval manis.
Tapi.. kenapa ia masih sendirian di sana?
Tak satu pun orang menghampirinya.

Ia terlihat asing di antara kerumunan orang.
Atau, dialah yang mengasingkan kerumunan itu!

Dia tetap sendiri di sana!
Memandang lurus ke depan
Siapa yang dilihatnya?
Oh.. seorang pengemis wanita dengan anaknya..

Mereka sedang duduk di pinggiran jalan..
Dengan tangan terangkat, mengharap belas kasihan!

Banyak orang lalu lalang
Tapi tak satu pun menghiraukannya!
Mereka melaluinya begitu saja..
Ia diasingkan di antara yang asing..

Kulihat kembali,
Tempat gadis manis itu berada
Ternyata ia tidak lagi di sana

Kutoleh kembali kepada pengemis itu..
Ternyata gadis manis itu berada di sana!
Berdiri tepat di depan pengemis itu..
Memberi selembar rupiah disertai senyum hangat..

Gadis manis berambut panjang..
Ia membelah keterasingan di antara yang asing!
Membuka mataku..
Sesungguhnya, masih terdapat nurani di antara keterasingan..


By: P. Sandra D.
Terinspirasi ketika melihat temanku, Florensia.

 ^_^


'Day Diary'

21.17


Tuhan Yesus..
Bagiku Kau seperti lukisan abstrak.
Rumit, banyak warna, beragam bentuk dan penuh liku.
Sulit dipahami..
Tapi indah dilihat..

Ya.. seperti itulah Engkau..
Sulit untuk memahami karya-Mu.
Tapi, begitu indah hidup di dalam-Mu..

^_^

P. Sandra D.

Anti Koruptor

20.57


Hey kau!
Iya kau!
Kau yang duduk di kursi tahta, bermartabat,
dan berkuasa di negara ini!

Beraninya kau menghianati kami!
Beraninya kau menjajah kami di negara kami sendiri!
Beraninya kau mencuri uang milik negara kami!

Sungguh lancang kau!
Musnahlah orang-orang seperti kau!
Orang tolol yang berani mencuri uang negara kami!
Uang yang kau curi dari hasil pemerasan terhadap rakyat kecil!

Musnahlah kau Tuan dan Nyonya koruptor!
Rakyat Indonesia menghujatmu!
Ibu pertiwi mengutukmu!
Kau orang yang tak tahu malu!

Kami tak habis pikir..
Mengapa kau tega mencuri uang negara kami?!
Apa gajimu tak cukup untuk mengisi perutmu?!

Kau memang terlalu miskin!
Miskin pikiran, miskin hati, dan miskin moral!

Kau bukanlah warga negara Indonesia!
Kami tak sudi mengakuimu sebagai
bagian dari keluarga Indonesia!

Koruptor! Pergilah kau ke neraka!


By: P. Sandra D.


Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images