Aku berbisik..

21.31


Aku berbisik:
Kata-kata itu mirip seperti pedang yang runcing; dapat melindungi, melawan, tetapi dapat pula melumpuhkan.
Kata-kata itu adalah sebuah kekuatan; yang dapat mempersatukan, tetapi dapat memecahbelah.
Kata-kata itu memiliki sejuta misteri.
Orang-orang yang bijak, dengan kata-kata yang bijak, dapat menjadi akar dari perdamaian dunia.
~S.

Ketika kita melakukan sesuatu dan mengerjakan sesuatu atas dasar pengabdian kepada Tuhan, maka kita tidak akan pernah merasa terbeban; tidak akan meminta balasan; imbalan; dan timbal balik dari apa yang sudah kita berikan.
~S.

Kala kantuk memanggilmu,
dan letih tubuh adalah bukti betapa berat waktu-waktu yang kau lalui,
berikanlah waktu walau sesaat,
menyapa Tuhanmu dan bersyukur atas cinta yang sekecil apa pun yang kau terima di hari itu.
~S.

Tuhan, ada berjuta-juta doa yang dimohonkan oleh putra-putri bumi ini kepada Tuhan.
Hanya satu pinta kamu:
Ajar kami untuk menanti dengan setia, dan ajar akami untuk menerima dengan iklas.
Terima kasih.
~S.

Seseorang bisa melewatkan, tetapi ia bisa berpaling kembali.
~S.

Human is Mortal.
~S.

Tuhan tidak pernah memberi permasalahan. Masalah hanyalah efek yang terjadi ketika Tuhan sedang berusahan menuntun kita pada rancangan terindahNya.
~S.

Hidup adalah pemberian.
Tetapi perjalanannya adalah sebuah pilihan dan keputusan.
Jangan buta, dan jangan gegabah dalam memutuskan.
~S.

Aku jatuh cinta.. Lagi.. Lagi.. dan Lagi.
Kepada Tuhan yang mencipta semesta.
Aku jatuh cinta.. Lagi.. Lagi.. Lagi.. dan Seterusnya.
~S.

Kita selalu bisa merebut perhatian banyak orang jika sudah bersama. Tidak peduli apa yang ada dipikiran mereka ketika melihat keakraban kita, yang kita tahu, kitalah saudari.
~S.

Jika cinta itu harus beralasan, maka dia akan kehilangan arti.
~S.

Jangan tempatkan 'iman' pada dengkul kaki, karena perpecahan dan peperangan yang akan dihasilkannya.
Jangan pula menempatkannya dalam kepala, karena hanya penolakan dan pembangkangan yang akan dihasilkannya.
Tetapi, tempatkan 'iman' itu di dasar hari dan biarkan dengkul kaki dan kepala ini bersandar padanya.
Maka perdamaian dan persaudaraanlah yang akan datang bersamanya.
~S.

Hatiku adalah rumahmu.
~S.

Gunakanlah mata untuk melihat; telingan untuk mendengar; mulut untuk mengatakan: hal yang benar.
~S.

Bagiku, membuka mata berarti aku tertidru. Tertidur, berarti aku terbangun.
Aku tak pernah takut menghadapi apa pun ketika mataku terbuka, karena aku tahu, itu hanya mimpi. Rasa sakit dan pedih, hanyalah ilusi. Semua akan berlalu, ketika aku terbangun dalam tidurku.
Aku selalu rindu menutup mata. Berjalan dalam -dunia nyata-ku. Di sana aku bertemu dengan TUHAN-ku. Bermain seperti kanak-kanak. Berpetualang seperti Harry Potter. Aku terbang menggapai langit. Menari di atas laut. Duduk di atas awan. Memandang semesta yang indah.
~S.

Persahabatan itu terkadang lebih romantis.
~S.

Sederhana itu, cantik.
~S.

Maaf yang sesungguhnya adalah, ketika anda teringan kembali pada sakit hati itu, anda mampu tersenyum tulus.
~S.

Pengetahuan tanpa iman, tersesat jadinya.
Iman tanpa pengetahuan, omong kosong adanya.
~S.

Ketika anda bisa menikmata dan mensyukuri indah dan pahitnya 'cinta'; anda sedang menjadi manusia utuh yang siap untuk dicintau dan mencintai.
~S.

Takut adalah hal yang wajar.
Tapi berlutut padanya, adalah sikap seorang pecundang.
Jadi, beranilah. Hadapi ketakutan itu.
Dan temukan cahaya keajaiban di baliknya.
~S.

Setiap manusia merupakan awal dari sebuah mimpi yang terlahir menjadi kenyataan.
~S.

Cantik itu, bukan sekedar manis dan indah secara fisik dan penampilan.
Cantik yang sesungguhnya adalah sebuah pancaran dari dalam diri, yang menyempurnakan bagian luarnya.
Cantik itu adalah, wanita.
~S.

Jangan menilai seseorang dengan logika. Tetapi nilailah dengan hati.
~S.

Tidak begitu banyak suara indah yang dapat menarik perhatianku.
Tetapi, ada banyak lukisan yang dapat menyentuh hatiku.
Dan, ada banyak kata-kata yang dapat membangkitkanku.
~S.

Seorang anak yang ingin belajar berjalan, harus terjatuh lebih dahulu dan merasakan sakitnya, agar ia dapat lebih kokoh untuk meletakkan kembali kedua kakinya.
Dan kalau pun ia terjatuh lagi, ia telah siap untuk melawan sakit, bangkit berdiri dan kembali kokoh untuk berjalan bahkan berlari.
~S.

Seseorang yang sukses bukan ditempah dengan keberhasilan, tetapi dengan kegagalan.
~S.

Hidup itu terasa lebih mudah, jika kita tahu apa yang dapat kita lakukan dan apa yang tidak dapat kita lakukan.
Hidup itu terasa lebih indah, jika kita menjadi diri sendiri dan bukan menjadi orang lain.
Hidup itu terasa menyenangkan, jika kita memahami apa itu kebahagiaan dan kesedihan bagi kita.
Hidup itu terasa bersahabat, jika kita mengerti "ternyata dialah sahabatku yang sebenarnya".
Hidup itu terasa diberkati, jika kita mengenal dan selalu bersama Tuhan yang kita sembah.
~S.

Mamaku selalu mengatakan:
"Wanita yang terhotmat adalah seorang wanita yang berpenampilan anggun, mempesona, namun sopan.
Wanita kaya bukan dilihat dari perhiasan yang dikenakannya, pakaian-pakaiannyan yang mahal, tetapi dari apa yang keluar dari mulutnya; sikapnya yang hangat namun tegas; air wajahnya yang lembut namun tegar.
Wanita terhormat adalah wanita yang mampu menjadi pemimpin atas dirinya sendiri."
~S.

Maratap..
Ujung mata pisau yang sama, menggores pada luka yang sama.
Membawa pada ujung rasa perih yang tak terbendung lagi dan meluap bagai bah yang meluluhlantahkan semua yang ada di depannya. Tak memandang apa dan siapa dan apa yang telah diperbuat. Hanya ingin memusnahkan dan menyeret semua itu pada lautan merah tanpa dasar.
~S.

Perempuan Sebagai Tokoh Hantu dalam Film Horror

16.09

Bayang-bayang Hidup Perempuan
Skets by: P. Sandra D.

Film Horor yang Cenderung Mengadopsi Perempuan sebagai Tokoh Hantu

A. Pengantar
Film merupakan hasil dari perkembangan industri hiburan. Film awalnya memiliki tujuan untuk menyampaikan suatu permasalahan, intrik, isu, dan cara penyelesaiannya. Pada dasarnya film bertujuan untuk menghibur dan mendidik para penonton. Namun, seiring berjalannya waktu, industri perfilman mengalami banyak perubahan dan kemajuan. Para sutradara berlomba untuk menyajikan suatu film dengan cerita yang penuh dengan misteri, lika-liku, fantasi, dan efek film yang mampu menyedot perhatian banyak orang. Dan ada beberapa jenis film yang hadir di tengah masyarakat; Fantasi, Sci-Fantasi, Komedi, Misteri, Romansa, dan Horror.
Berkaitan dengan film horror, belakangan ini semakin banyak film horror yang muncul di tengah-tengah masyarakat, baik itu film horror dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Sepertinya, sensasi yang dihasilkan film horror selalu berhasil merebut perhatian banyak orang dari berbagai kalangan. Film horror bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat keberadaan sisi lain dari dunia beserta para penghuninya dan perilaku mereka. Film horror cenderung mempertunjukkan sesuatu yang menyeramkan, mengerikan, mencekam, penuh dengan teriakan, dan memiliki tujuan untuk mamacu adrenalin dan menguji nyali para penontonnya.
Pada tahun 2013 lalu, ada beberapa film horror yang dinobatkan sebagai film terseram pada tahun itu, seperti; Insidious 2, Mama, The Conjuring, Carrie, dan Evil Dead 2. Dari kelima film tersebut, tiga diantaranya yang telah saya nonton, Insidious 2, Mama, The Conjuring, menunjukkan sosok hantu utamanya adalah seorang perempuan. Hal ini sepertinya sangat mengganggu pikiran saya. Bukan hanya dalam film-film tersebut, ada banyak lagi film yang memperlihatkan perempuan sebagai sosok hantu, seperti; The Shutter, Twins, The Shock Labirinth, Hantu Jeruk Purut, Penari Ronggeng, Kultilanak, Jelangkung, Hantu Ambulance, dll.
Tetapi bukan hanya dalam perfilman, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan rakyat Indonesia, kebanyakan cerita-cerita maupun mitos-mitos horror yang beredar mendefenisikan tokoh negatif seperti hantu dan siluman, memiliki wujud yang mirip dengan perempuan. Mungkin asumsi ini pulalah, yang menghantarkan banyak film horror untuk cenderung menggambarkan hantu dalam sosok perempuan. Asumsi ini dapat memicu sebuah ketakutan dari masyarakat awam terhadap kaum perempuan, dan berakhir dengan kebencian.
Hal yang demikian dapat dinamakan sebagai misogini. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, misogini diartikan sebagai ‘orang yang membenci wanita’, atau ‘kebencian terhadap perempuan’. Istilah itu dapat mendukung fakta film-film horror yang menjadikan sosok perempuan, sebagai sosok yang negatif, jahat, merasuki, dan mengahantui. Dan biasanya, pemeran perempuan dalam film horror cenderung bersifat lemah, penakut, dan mudah dirasuki, sedangkan laki-laki akan menjadi penolong, dan berani menghadapi resiko. Hal yang demikian, secara tidak langsung telah menyampaikan kepada masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk yang lebih lemah dari laki-laki.

B. Analisa
Pada gelombang ketiga feminis, muncullah istilah Feminisme Postmoderen. Feminisme postmodern memiliki pemikiran bahwa perempuan telah dipandang sebagai ‘yang lain’. Perempuan mengalami alienasi yang disebabkan oleh cara berada, berpikir, dan bahasa perempuan yang tidak memungkinkan terjadinya ketebukaan, pluralitas, dan diversifikasi. Kelompok feminisme postmoderen menggali persoalan alienasi perempuan secara seksual, psikologis, dan sastra, dengan bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem.
 Seorang feminisme postmoderen bernama Helene Cixous mengemukakan beberapa hal yang mejadi penyebab timbulnya misogini. Cixous adalah seorang novelis yang menggunakan gaya menulis perempuan (pecriture feminime) dan gaya menulis laki-laki (pecriture masculine). Tulisan laki-laki, merupakan tulisan ‘phallogosentrik’. Ann Rosalind Jones mengemukakan bahwa laki-laki kulit putih, kebangsaan Eropa, dan dari kelas mapan, pernah berkata; “Saya melambangkan kesatuan, mempunyai kendali, dan pusat universum”. Dengan cara berpikir yang demikian maskulin, maka muncullah misogini dalam cara penulisan laki-laki. Hal ini terlihat dalam argumentasi seperti; Matahari/Bulan, Aktif/Pasif, Siang/Malam, Tinggi/Rendah, dll.
Usut punya usut, nyatanya hal ini dipicu oleh budaya patriarkhal yang mengasosiasikan laki-laki sebagai pihak yang aktif, dan perempuan sebagai pihak yang pasif. Laki-laki merupakan subyek dan perempuan adalah ‘yang lain’ (other) atau objek. Menurut Cixous, tulisan yang berkualitas seharusnya memiliki gairah dan bukan karena adanya rasio atau reason.
Setelah melihat pernyataan yang dikemukakan Helene Cixous, maka sangat memungkinkan terjadi diskriminasi bersifat misoginis terhadap kaum perempuan. Laki-laki memandang dirinya sebagi pusat dari perkembangan, dan memandang perempuan sebagai pihak lain. Dengan adanya pemikiran yang demikian, maka akan timbul ketimpangan-ketimpangan pola pikir laki-laki terhadap perempuan. Perempuan hanyalah bayang-bayang, pasif, dan misterius. Maka mulailah bermunculan asumsi-asumsi yang mengkaitkan perempuan dengan cerita-cerita misteri. Dan pola pikir ini merambah masuk semakin dalam, hingga kepada bagian industri hiburan seperti perfilman.
Wanita cenderung dijadikan sebagai lakon hantu yang menakutkan, misterius, haus darah, dan membunuh. Dan sering kali, laki-laki mendapat peran sebagai penolong dan pembasmi hantu-hantu tersebut. Secara tidak langsung, hal-hal demikian menjadikan citra perempuan semakin terpojok. Perempuan dikenal sebagai makhluk yang kejam, mendendam, penuh amarah, ditakuti, dan akan menjajah ketika diberi kebebasan. Hal ini sangat tidak baik jika tertanam dalam pemahaman masyarakat awam, sebagai dampak dari film-film maupun cerita-cerita dan mitos-mitos yang beredar tersebut.

C. Fokus Masalah
Setelah merenungkan persoalan tersebut, ini merupakan sebuah masalah yang sangat memerlukan perenungan. Mengapa kaum perempuan harus mendapat citra buruk berkaitan dengan dunia gaib, hal yang negatif? Tak sedikit tempat yang ketika ditanyai berkenaan dengan hal-hal gaib, maka sering sekali muncul dugaan adanya sosok ‘perempuan’ di sana, seperti; Kuntilanak, Kolong Wewe, Arwah Seorang Nenek, Siluman Perempuan Ular, dll. Bahkan menurut kabar burung yang beredar, Lucifer (sang malaikat pembelot) adalah seorang perempuan. Jikalau pun ada sosok laki-laki, jumlahnya tak sebanyak perempuan.
Ini sangatlah berbahaya. Hal demikian, dapat menumbuhkan ketakutan tersendiri di kalangan masyarakat terhadap sosok perempuan. Dan akan memperkuat sistem patriarkhal di tengah masyarakat.
Dan dalam dunia sastra yang ditulis oleh laki-laki pun, perempuan sering sekali mendapat julukan, label, dan pencitraan yang tidak sejajar dengan laki-laki. Misalnya saja; Matahari (laki-laki) dan Bulan (perempuan).  Melihat dari julukan tersebut, kita sudah dapat melihat seperti apa posisi yang diterima perempuan. Matahari adalah bintang raksasa yang memiliki sinar sendiri. Manusia membutuhkan matahari untuk mengetahui awal dari hari dan waktu untuk bekerja. Sedangkan bulan hanyalah satelit bumi yang tidak memancarkan cahaya. Ia membutuhkan cahaya dari matahari untuk dapat bersinar. Melalui hal ini, kita dapat memahami, bahwa pihak perempuan dianggap lemah dan bergantung pada laki-laki.

D. Seharusnya
Alangkah lebih indah jadinya, jika tercipta suasana harmonis antara kedua belah pihak; laki-laki dan perempuan. Ada baiknya, jika budaya patriarkhal diperbincangankan kembali, bukan untuk menjatuhkan martabat para laki-laki, tapi untuk mengingatkan kembali tugas masing-masing pihak. Perempuan bukan untuk ditakuti apalagi dibenci. Pria dan wanita diciptakan bukan untuk saling menindas dan mendiskriminasi, tetapi untuk menjadi teman sekerja dan sepikir antara satu dengan yang lain.
Setiap pihak (pria-wanita), memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Pria dan wanita bukanlah manusia yang sempurna penuh, ada banyak kekurangan di antara keduanya. Namun ada pula keunggulan yang mampu menyeimbangkan kekurangan-kekurangan tersebut.
Laki-laki tidak akan terlahir tanpa seorang ibu, dan perempuan tidak akan terlahir tanpa seorang ayah. Bagaimana mungkin, ditengah perbedaan yang bergitu mencolok dan rasa butuh satu-sama lain, masih ada pihak yang tega mendiskriminasi pihak yang lain? Ini bukanlah hal yang patut dicontoh apalagi menjadi budaya.
Laki-laki harus mempergumulkan kembali pola pikirnya tentang kekuatan, kekuasaan, keunggulan, pusat perkembangan, dan pengendali yang berada lebih tinggi di atas kaum perempuan. Perempuan harus mempergumulkan kembali pola pikirnya tentang kelemahan, dikuasai, pekerja dalam rumah, dan berada lebih rendah dari pihak laki-laki.
Laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang sama-sama kuat dalam porsinya masing-masing. Keduanya memiliki keterampilan yang sama dalam berbagai hal, namun memiliki pola pikir yang unik dalam menyelesaikan dan mengerjakan berbagai hal tersebut.
Laki-laki dan perempuan adalam simbol kesatuan yang utuh.

E. Refleksi Teologis
‘Aku bukan Laki-laki, Aku bukan Perempuan. Aku adalah Ayah, Aku adalah Ibu’, itulah pandangan saya terhadap Tuhan dan terhadap ciptaan-Nya yang paling hebat bernama, manusia. Laki-laki dan perempuan, sama dihadapan Tuhan.
Saya memandang Tuhan sebagai Pencipta yang agung, dan yang tak memandang jabatan, kekayaan, kepintaran, apalagi status biologis seseorang. Tuhan adalah Ibu dan Ayah, bagi saya. Dia tidak memihak pada laki-laki, atau pada perempuan. Ia adil kepada siapa saja, dan tak pernah terlambat memberi pertolongan.
Terkadang saya memanggil-Nya; Bapak, Ibu, Sobat, Yang Terkasih, Saudaraku, Saudariku. Tidak ada batasan untuk mengenal Dia lebih dalam, dan Dia tidak membatasi diriNya untuk dikenal oleh siapa pun.
Jika Tuhan yang menciptakan manusia saja, tak memandang rupa, mengapa manusia yang diciptakan itu malah memandang rupa? Bukankah, akan lebih indah jika kita saling menjaga, melengkapi, menghormati, menolong, memahami, mengasihi, mencintai, satu dengan yang lain. Mengapa harus berpikir, atas/bawah, besar/kecil, jika kita bisa berpikir ‘sama/setara’.
Kristus mengasihi setiap orang, tanpa melihat apakah dia laki-laki atau perempuan. Kristus rela berkorban untuk setiap orang, membayar keselamatan manusia dengan nyawaNya sendiri. Sebagai seorang Kristen yang telah hidup dalam kasih Kristus, apakah sulit mengasihi orang lain dengan kasih yang telah kita terima dan pelajari? Kita telah menerima kasih, mengapa harus pelit dalam membagikannya. Kasihilah siapa saja dengan kasih Kristus, tanpa memandang siapa dia.


Mr. K

17.07


Apa yang terjadi padamu, Mr. K?
Lama sudah aku menghapusmu dari ingatanku.
Lama engkau telah hilang dari mimpi-mimpi malamku.

Mengapa kali ini engkau kembali?
Membawa pula gambar wanita yang dulu engkau sebut 'cinta mati'.
Namun kau berikan aku jawaban atas penantian bertahun silam.

Kumohon, jangan pernah kembali ke dalam hidupku.
Jangan lagi engkau hadir dalam mimpi malamku.
Jangan tumbuhkan lagi rasa yang telah susah payah kulebur.

Jangan kembali.
Jangan lagi engkau mengingat.
Jangan lagi hatiku jatuh padamu.

Aku telah melupakan.

S.


Cerita di balik Cerpan 'Tuts'

15.42



Hola teman-teman semuanya.
Kali ini aku mau berbagi cerita mengenai cerpanku yang judulnya, 'Tuts'.
Ini adalah cerpan ke-3 ku setelah, Where Love Sleeps dan The End.
Dan puji Tuhan, ini karya ke-2 ku yang diberi kesempatan oleh situs cerpen online, Cerpenmu.com, untuk meraih gelar Cerpen of the Month bulan Mei.
Tentu aku sangat bersyukur, karena penantian berbulan-bulan terbayar sudah. Hehehehe!!

Oh iya, ada cerita unik di balik cerpan ini.
Aku menulis cerpan ini, setelah menonton film 5cm. 
5cm, salah satu film Indonesia yang aku rasa pantas diacungkan jempol.
Komedi yang disuguhkan di film itulah, yang membuatku tertarik untuk menyisipkan fell komedi dalam cerpan Tuts (coba lihat bagian 2).

Mengenai genre cerpan ini,, fantasi romantis,, itu berasal dari ketertarikanku sendiri pada cerita-cerita bernuansa fantasi. Dan sedikit trhiller akhirnya menambah kesan unik cerpan ini.
Hehehehhehehe!!! (ke-PD-an)

Mengenai judulnya, Tuts.
Ini agak unik. Hehehehe!
Aku memang tidak mahir dalam bermain alat musik, khususnya piano atau organ.
Dengan penguasaan 'kunci' yang biasa-biasa saja (pastinya), terkadang aku ketemu dengan not-not unik yang aku rasa sangat enak untuk kudengarkan (kayak komposer gitu deh,, tapi kelas teri, xoxoxoxoxoxo!!!).
Nah, dari situlah, aku ketemu ide untuk bikin cerita berhubungan dengan musik. Kwkwkwkwkwkwkkwwkkwkw!!! :P :D

Yupp,, itu dia sobat, seputar cerita di balik layar cerpan 'Tuts'.
Semoga cerpan ini dapat memberi manfaat buat kamu semua ya. ^_^
Dan semoga menginspirasi.
Amin.


Salamku,
Sandra.

Cerpan 'Tuts' (Bagian 3 dan Coffee Break)

15.16


Bagian III

Pagi. Hari keenam.
Hari ini sepertinya lebih parah dibanding hari kemarin. Cello merasa panas, dan tiba-tiba merasa dingin. Kepalanya terasa begitu sakit. Dadanya terasa sesak, membuatnya agak sulit bernafas. Dan semua tampak bergoyang. Ia tidak kuat berlama-lama di kamar mandi. Dan sekujur tubuhnya terasa begitu letih, lemah. Ia sendiri tidak memahami keadaannya.
Ia duduk sejenak di sofa. Dari villa Mikha, melodi ‘Tuts V and V’ mengalun lembut, menerobos tiap celah di rumah itu, hingga sampai ke telinganya. Baru kali ini, ia mendengarkan lagu itu dimainkan oleh seseorang. Rasanya begitu berbeda. Lebih menyentuh. Apa lagi, ketika yang memainkannya adalah jemari sang maha cinta.
Melodi itu terasa seperti suplemen yang menambah tenaga. Membangkitkan semangat dan memberi sedikit kekuatan. Cello bangkit berdiri dan melangkah cepat menuju pintu villa Mikha. Pintu sudah terbuka dan ia berdiri sejenak di sana. Memandangi lekat maha cintanya.
Hidupnya akan berakhir jika ia tak berhasil mendapatkan hati Mikha dan membawanya kembali. Namun, ia tak berkuasa pula memaksanya. Ia tak ingin cinta itu ternodai oleh keserakahan dan ketakutannya pada ajal.
“Pagi Mikha. Boleh masuk?”
Mikha menoleh, dan tersenyum, “pagi El. Ayo sini! Aku pingin kita memainkan lagu ini berdua!” ucapnya polos.
Cello melangkah perlahan dan duduk di samping Mikha. Ia melekatakkan jemarinya di atas piano.
“Ayo,” ajak Cello.
Kini jemari mereka menari lincah di atas piano. Menghidupkan nada-nada indah yang lama terbelenggu. Yang tak sempat dimainkan berdua oleh Venus dan Vero. Alunannya merobek udara, bergerilya di dalam villa, mencari tiap celah untuk keluar. Membuat pepohonan dan rerumputan seakan menari bersama.
Irama Cinta.
Dan, selesai.
Bersamaan dengan itu juga, Cello sudah jatuh pingsan di pundak kanan Mikha. Mikha segera menoleh, dan ia begitu terkejut melihat Cello sudah terpejam. Ia menyentuh pipi Cello, dan tubuhnya terasa begitu dingin.
“El! El!” Ia menepuk-nepuk pipi Cello.
Beruntung, pengurus tamannya sudah datang. Ia meminta tolong pria itu memapah Cello ke kamarnya. Mikha menyelimutinya, kemudian menyalakan penghangat ruangan. Ia menelepon seorang dokter dan memintanya untuk datang. Kemudian ia duduk di dekat Cello, dan menggenggam tangan kanannya.

₰     ₰     ₰

Malam.
Cello mulai membuka mata. Ruangan itu tampak samar dan sedikit berputar. Dilihatnya pula seorang gadis duduk di dekatnya dan melihatnya dengan cemas. Ia mengenalinya.
“El?!”
“Mikha.” Suaranya hampir tak terdengar.
“Tadi dokter sudah memeriksa kamu. Dia bilang mungkin kamu kelelahan. Dia memberi obat untuk kamu minun nanti.”
“Percuma. Obat apa pun tidak akan bisa menyembuhkanku.”
“Kenapa ngomong begitu?!”
“Karena aku tidak sakit. Ini bukan tempatku. Dan aku tengah berada dalam satu permainan. Aku hanya diberi waktu 7 kali senja. Dan besok, adalah senja terakhir.”
“El!! Aku tidak suka dengan candaan kamu!”
“Aku tidak bercanda Mik!” Ia bangkit duduk. “Apa kamu pikir kedatanganku ke tempat ini hanya sebuah candaan? Apa kamu pikir lagu yang kamu kenal itu juga hanya sebuah candaan, hanya suatu ketidaksengajaan? Kebetulan belaka?”
Mikha terdiam. Melihat mata Cello. Ia mencoba mencari sesuatu di sana. Tetapi, sama sekali tidak ada dusta tergambar di sana, seperti yang ia harapkan.
“Kamu bodoh El! Apa kamu tidak takut mati!?” Suaranya sedikit meninggi. “Bagaimana jika kamu tidak menemukan orang itu-”
“Aku sudah menemukannya,” potong Cello. “Hanya saja, mungkin ia belum menemukanku di dalam hatinya,” ia menatap lekat pada mata Mikha. “Aku tidak takut mati, jika memang aku harus gagal. Yang terpenting, jangan sampai aku menodai cinta itu dengan keegoisan dan nafsu untuk memilikinya. Itulah cinta berbalut kasih.”
“Apa orang yang kamu maksud.. itu aku?”
Cello hanya mengangguk.
Mikha menunduk, menatap kosong. Ia tak dapat berpikir, tak dapat pula menjawab.
“Kamu istirahat saja di sini. Aku tidur di kamar tamu. Malam El.” Ia bangkit berdiri, dan melangkah keluar dari kamar itu, tanpa mengucapkan kata-kata lain. Cello hanya diam, memandangi Mikha hingga ia menghilang di balik pintu.
Hari itu, penuh dengan keheningan.

₰     ₰     ₰

Pagi ini tak seperti biasanya. Ketika membuka mata, Mikha merasakan debaran jantungnya bergerak cepat. Ada sunyi yang begitu pekat hadir di dekatnya. Ia duduk untuk sesaat di atas tempat tidur, sembari mencoba mengingat-ngingat akan kejadian semalam. Ia ingin pembicaraannya dengan Cello saat itu hanyalah sebuah mimpi. Bahkan ia menginginkan, Cello hanyalah mimpi.
Tetapi sesuatu membuatnya segera bangkit berdiri. ‘Hari ini’. Entah kenapa, tiba-tiba ia begitu takut kehilangan Cello. Ia berlari menuju kamarnya. Dan dengan sigap membuka pintu. Tetapi, kamar itu telah kosong, dan selimut yang dipakai Cello telah terlipat rapi. Ia melihat ada sesuatu terletak di atas kasur. Ia mendekatinya dan memungutnya. Itu setangkai bunga mawar putih dari kertas. Bunga yang sama seperti yang diberikan Cello kepadanya pada perjumpaan pertama mereka. Ada sebuah kertas yang diselipkan pada bunga itu. Mikha membukanya: ‘Awal dari perjumpaan. Akhir dari perpisahan’.
Mikha segera meletakkan bunga dan kertas itu, dan berlari keluar villa. Ia berlari menyusuri jalan di pagi yang masih dini itu. Mata dan kepalanya liar melihat ke segala arah, mencari, dan mencari. Ia tidak tahu ke mana kaki itu akan menggiringnya. Yang ia inginkan hanya terus berlari dan secepatnya menemukan Cello.
Entah sudah berapa lama ia mencari, dan entah sudah berapa jauh ia berlari. Kini langkah-langkahnya mulai melambat. Nafasnya memburu. Keringat mengucur di wajahnya. Setiap tetesnya bertabuh seirama dengan rasa takutnya. Takut, ia tidak akan bertemu lagi dengan Cello.
Beruntung sesuatu melintas cepat di kepalanya, ketika ia melihat sekawanan anak muda yang akan berangkat kuliah. Ia segera teringat kampus yang pernah ditunjukkan Cello padanya. Tanpa berlama-lama, ia segera mengambil langkah lari cepat menuju kampus itu. Tak peduli berapa jauh ia harus berbalik arah, yang terpenting ia bisa menemukan Cello.
Sekarang ia sudah berada di depan gerbang kampus. Gerbang itu terbuka. Ia yakin bahwa Cello telah masuk ke dalamnya. Maka dengan langkah-langkah cepat ia masuk ke kampus itu. Saat itu juga ia merasakan perubahan udara di sekitarnya. Lebih dingin dibanding sesaat sebelum ia masuk. Tapi ia tidak peduli. Bahkan ketika melihat beberapa burung Gagak bertengger di sebuah pohon tua yang sudah kering. Tempat itu jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.
Kini ia sudah menapaki anak-anak tangga. Lantai dua. Lantai tiga. Ia berjalan lurus, menuju ruangan paling ujung. Debar jantungnya tidak seperti biasa. Debaran rasa takut dan cinta bergerak, melangkah bersama. Ia sudah berdiri di depan pintu. Tangannya memegang knob. Memutarnya perlahan. Dan membukanya dengan satu dorongan keras. Pintu itu terbuka lebar. Udara berhembus keluar menyapu tubuhnya.
Dan ia menemukan suasana yang lain. Keindahan sedang menjajah ruangan itu. Taburan kelopak bunga mawar putih bertebaran di lantai. Jendela itu dibiarkan terbuka. Gorden putih tipis yang bersih ditiup angin lembut. Dan cahaya mentari pagi sedang bertamu di dalamnya. Yang terindah adalah, ia menemukan maha cinta tengah duduk di sana.
Cello cukup terkejut melihat kedatangan Mikha. Ia segera bangkit dari kursi piano itu.
“Mikha?”
Tanpa berkata-kata, Mikha segera berlari ke dalam dan memeluk Cello dengan erat. Cello menyambut pelukan itu. Kini dua jantung manusia itu bertabuh seirama. Bagaikan melodi-melodi yang merangkai kidung cinta terindah.
“Bawa aku ke tempatmu, El!”
“Tapi, Mik! Apa kamu yakin? Aku tidak bisa membawa kamu dengan hati yang terpaksa!”
“Aku telah menemukan kamu di hatiku.” Ia tidak berbohong. “Ayo kita mainkan lagu itu bersama. Dan lagi, aku tidak mau mati di sini!”
“Ah! Iya!”
Mereka berdua duduk berdampingan di kursi itu. Meletakkan tangan di atas tuts-tuts piano yang tersisa. Melihat dan mengamatinya dengan seksama. Kesalahan kecil berakibat kutuk.
“Awal hingga akhir. Akhir hingga awal. Kamu mengingatnya ‘kan, Mik?”
“Ya,” ia mengangguk mantap.
DIMULAI

*   *   *
_Awal hingga akhir_
Musik mengalun.
Terjadi sesuatu di ruangan itu. Benda-benda di dalam sana bergetar. Beberapa benda keramik jatuh dan pecah. Ada tiupan angin yang tak biasa mulai bergejolak di dalam sana, membawa serta kelopak-kelopak bunga itu. Jendela terbuka lebar. Gorden itu dijambak keluar. Perlahan muncul satu cahaya yang tak begitu silau. Menerangi ruangan itu, bersamanya ruangan itu seakan berputar. Membawanya kembali kepada keadaan beberapa tahun silam. Potongan-potongan kejadian mulai berjalan.
Sepasang muda-mudi berdiri di dekat piano itu. Laki-laki itu memberi sebuah buku lagu kepada gadis manis di depannya. “Itu adalah cinta,” ucap laki-laki itu. Suatu senja gadis manis itu datang ke ruangan itu lagi. Ia menunggu kekasihnya. Tiba-tiba pintu terbuka, “Ve? Itu kamu? Ve, jangan bercanda.” Yang muncul di sana bukanlah orang yang dinantinya. Melainkan seseorang dengan mantel hitam bersimbah darah dengan palu di tangannya. “Sedang apa bapak di sini?” ia mengenali manusia berjiwa setan itu! Bersama sunyi, gelap yang mencekam, dan halilintar yang menjilati langit, satu fenomena keji terjadi di ruangan itu. Histeris yang tak berkesudahan. Gadis manis itu akan dibantai. Tetapi ia tidak rela mati di tangan bajingan busuk itu. Dan ia memilih satu-satunya jalan keluar yang ada di sana. Ia berdiri di atas jendela. Melihat ke bawah.
Ketika hatinya telah mantap, ia menoleh untuk terakhir kali, melihat dan merekam wajah monster itu. Membawa kenangan tentangnnya dan kenangan tentang kekasihnya dalam satu lompatan bebas. Tubuhnya mendarat telungkup di atas tanah yang basah. Jantung, paru-paru, dan kepalanya, remuk seketika. Namun kenangan itu tidak bisa sirna, nafas penuh amarah tidak akan padam, dan ia merasakan satu debaran terakhir sebelum semuanya berakhir. Debaran itu bukan miliknya, tetapi milik seseorang yang lain, di balik tanah itu.

*   *   *
_Akhir hingga awal_
Musik mengalun.
Rentetan potongan kejadian itu bergerak mudur dalam hitungan detik-detik yang cepat. Kini muncul potongan lain. Seorang pria dan seorang laki-laki muda tengah berbicara serius di dalam satu ruangan. Terlihat antara dosen dan muridnya.
“Ini sama saja dengan penipuan besar-besaran, Pak! Saya tahu lagu itu bukan karangan Bapak. Saya telah lebih dahulu menemukan lagu itu dalam tumpukan barang bekas di gudang. Lagu itu karangan seorang siswi yang sudah lama meninggal, dan ia belum sempat mempertunjukkan karyanya. Lagu itu milik, Sove!”
“Kau tidak mengerti apa-apa, Venus!”
“Saya mengerti, Bapak ingin sekali memiliki satu karya yang menjadi masterpiece. Tetapi, keinginan itu telah membuat Bapak mabuk dan tidak sadar bahwa yang Bapak lakukan ini salah! Karya agung tidak tercipta hanya melalui otak, tetapi ia terlahir dari dalam hati dan perasaan!”
“Kau hanya anak ingusan! Jadi tutup mulutmu!” Rendy, dosen ‘sang plagiator’ itu keluar dari ruangan tersebut dengan rasa amarah, benci, dan takut yang luar biasa.
Suatu senja Venus sedang berada di ruang piano itu menunggu kekasihnya Vero, untuk menepati janjinya memainkan lagu ‘Tuts V and V’ itu. Dan sebagai hadiah tepat di hari ulang tahun Vero. Tiba-tiba pintu terbuka. “Vero, itu kamu?” tanyanya dalam nada riang. Tetapi semuanya berubah ketika yang dilihatnya berdiri di depan pintu itu bukanlah Vero melainkan manusia yang telah kesetanan, dipenuhi arwah dendam, benci, dan nafsu membunuh yang membabi-buta. Tanpa banyak berkata-kata, pria itu menyerang Venus berkali-kali dengan palu yang ada di tangannya. Ia menyeret keluar tubuh Venus dan menjatuhkannya melalui anak-anak tangga. Venus tidak berdaya melawan palu itu. Tubuhnya diseret dan digiring ke tempat pembantaian terakhir.
Di belakang kampus, sebuah lubang sempit yang tidak begitu dalam telah digali. Dengan pandangan yang samar-samar, Venus melihat lubang itu, dan ia diseret masuk ke dalamnya. Tubuhnya telentang menghadap langit senja yang mendung. Sampai akhirnya ia merasakan gumpalan tanah dingin perlahan-lahan menyelimuti tubuhnya. Seluruhnya.
Dan pada detik-detik terakhir nafas yang tersisa. Ia merasakan ada sebuah tubuh yang jatuh tepat di atasnya. Hujan membawa masuk aroma tubuh itu ke dalam tanah. Aroma parfum yang begitu ia kenal. Aroma milik Vero. Di permukaan tanah itu, terbaring tubuh kekasihnya. Debaran terakhir digunakannya untuk mengucapkan sesuatu dari hati terdalam, “Aku mencintai kamu Vero. Selamanya..”
Gadis itu bisa merasakan debar jantung itu. Dibalik tanah itu, ada degub jantung seorang manusia. Ia pernah hidup. Dicintai dan mencintai. Manusia itu adalah maha cintanya. Venus.
*   *   *
BERAKHIR
Cello jatuh ke lantai, tidak sadarkan diri. Tubuhnya semakin dingin. Mikha segera memangku kepalanya dan mencoba membangunkannya. Ia semakin takut ketika melihat tubuh Cello berubah menjadi uap dingin yang bersatu di udara dan terlihat semakin tipis.
Sampai akhirnya, satu suara mengejutkan Mikha.
“Jangan khawatir, Mikha. Cello hanya tertidur.” Itu Venus.
Mikha begitu terkejut melihat dua orang muda-mudi datang berjalan mendekatinya. Ia baru saja melihat wajah mereka dalam potongan-potongan kejadian itu. Dan melihat mereka berakhir dengan mengenaskan. Tetapi yang dilihatnya kini hanya dua orang manusia yang pernah hidup dengan aura kedamaian yang memancar dari wajah mereka.
“Venus dan Vero?”
“Iya,” Vero menjawab dengan senyum, “salam kenal, Mikha.”
Venus melangkah mendekati tubuh Cello. Ia berjongkok dan menggenggam erat tangan kanannya. Uap dingin yang melebur dari tubuh Cello seketika kembali, bersatu, dan memadat. Tubuh dinginnya berubah menjadi hangat. Wajahnya merona, sehat. Venus berdiri dan tanpa ragu menarik tangan Cello, dan bersamaan Cello seakan kembali dari kematian dan segera bangkit berdiri. Ia cukup terkejut ketika melihat Venus dan Vero ada di sana.
“Kami tidak punya waktu banyak untuk berbincang-bincang dengan kalian sambil menikmati secangkir teh. Tapi, kami sangat berterima kasih, karena kalian telah mempertemukan kami kembali di sini. Sekarang, kami telah siap untuk berangkat dan melupakan dendam itu. Namun, aku berharap kepadamu Cello, agar kau bisa menegakkan keadilan bagi kami berdua,” ucap Venus.
“Terima kasih Mikha, karena cintamu kepada Cello, telah melepaskan kami dari ikatan dendam dunia,” ucap Vero disertai senyuman.
“Sekarang kami harus pergi. Pintu keluar kalian, sudah terbuka.”
Vero memeluk Mikha, dan Venus memeluk Cello. Tanda persaudaraan dan persahabatan antara manusia dan mantan manusia. Venus dan Vero menjauh dari mereka. Bergandengan tangan dan berjalan menuju satu cahaya. Kemudian menghilang.
Semuanya kembali seperti semula. Tanpa berlama-lama, Cello menggandeng erat tangan Mikha dan membawanya berlari menuju pintu keluar. Ia memegang erat knob pintu, dan membukanya dengan lantang. Segera cahaya silau menyapa mata mereka. Dan ketika semuanya mulai jelas. Cello melihat kerumunan orang banyak di depan ruangan itu. Ia juga melihat sohibnya, Remi dan Arta. Ada garis polisi yang menghalangi pintu itu. Cello dan Mikha menerobosnya keluar.
Semua orang yang ada di sana begitu terkejut dan tidak percaya. Ada beberapa waktu lamanya, keheningan itu berlangsung. Sampai akhirnya Cello membuka mulut kepada polisi yang mendakwa tempat itu sebagai TKP.
“Pak, ada dua mayat di belakang gedung itu. Mayat itu adalah Venus dan Vero, dua mahasiswa yang dinyatakan hilang beberapa tahun yang lalu. Mereka dibunuh oleh seorang dosen di kampus ini, bernama Rendy. Rendy melakukannya karena dia tidak mau kedoknya terbongkar, mengenai kasus plagiasi lagu karya almarhum Sove.”
Setelah menceritakan kejadian itu secara detail, Cello kembali pingsan. Ia dilarikan ke rumah sakit, dan polisi segera menangani kasus itu. Tubuh Venus dan Vero benar-benar ditemukan di sana, dalam rupa kerangka. Rendy, manusia keji itu segera ditangkap di kediamannya, dan mendapat hukuman dengan pasal berlapis. Hasil akhirnya, kurungan seumur hidup.

₰     ₰     ₰

Coffee Break

“Kamu sedang apa, sayang?” tanya Mikha sambil membawa dua gelas kopi hangat ke atas meja makan. Di meja itu Cello terlihat sangat serius dengan laptopnya. “Kamu serius, banget. Jangan bilang kamu sedang mikirkan cara untuk melamar laptop itu!” candanya, sambil merangkul Cello dari belakang.
“Hahahaha!! Aku sedang menuliskan kisah cinta kita! Dan ini hampir selesai!”
“Kamu tidak melewatkan soal tanah yang jadi alas tidurmu dan langit atapmu, ‘kan?”
“HAHAHA!! Tidak akan ada satu bagian pun yang terlewatkan!”
“Lalu, bagaimana kamu mengakhiri ceritanya?”
“Dengan sebuah puisi.”
“Bunyinya?”
“_Cinta..
Satu zat tanpa satuan.
Bereaksi tajam menembus segala kepadatan.
Seperti racun, yang memompa jantung.
Berdenyut kencang, membekukan darah.
Melumpuhkan syaraf. Stroke seketika.
Itulah defenisi cintaku..
Ketika tetesannya jatuh darimu.
Tepat di sini.-

Aduh, ini apa sih! Kelihatannya mataku udah ‘gak beres!”
“Masa? Coba aku lihat. Yang mana?” Mikha mendekatkan kepalanya ke samping wajah Cello.
“Ini. Kata terakhir.”
“Oh! Itu kata,
Hati_”
Cello segera mencium pipi Mikha.

Udara bertiup lembut membelai gorden di ruang makan itu. Membawa udara surgawi masuk ke dalamnya. Cahaya mentari pagi sedang berlari riang di ruangan itu. Dan lagi, ada cinta abadi yang menetap di sana.

The End
Tuts


P. Sandra D.
21.10.2013

-Agunglah TUHAN yang telah menganugrahkan Cinta dan membebaskan kaki-kaki sucinya menapak di atas permukaan bumi.
-Dipersembahkan kepada seluruh insan yang tengah mengagungkan nama Cinta.

Lagi dan Lagi

17.22


Lagi-lagi..
Aku melihat hal ini.
Berpikir.
Bertanya.
Menjawab sendiri.

Lagi-lagi..
Aku bertemu dengan masalah ini..
Beradu.
Berbantah.
Berdiam diri.

Lagi-lagi..
Aku kembali ke titik ini.
Bermuram.
Bergundah.
Menangis sendiri.

Lagi dan lagi..
Aku melihat hal ini.
Aku bertemu dengan masalah ini..
Aku kembali ke titik ini.

Aku letih.
Aku berhenti.
Mematung.
Titik.


P. Sandra D.
02.06.2014

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images